Blogger Widgets

Minggu, 03 Juni 2012

TIPU DAYA DUNIA



 "DI mimbar ini kemarin sore salah seorang teman kalian berkata bahwa, seperti disebutkan Al-Quran, dunia ini penuh tipu daya. Benarkah demikian? Apakah dunia ini penuh tipu daya?" kata Abu Qu-baisy ketika membuka majelis taklimnya pagi itu. Seperti yang acapkali beliau lakukan, pagi itu sang guru besar tersebut tidak memberikan kata pengantar untuk membuka majelis taklimnya. Sebaliknya, beliau langsung mengajukan pertanyaan tentang benar atau tidakkah tipu daya dunia itu ada?
"Karena hal itu disebutkan di dalam Al-Quran, setidak-tidaknya di dalam ayat 196 dan 197 Surat Ali Imran yang berbunyi, 'Janganlah sekali-kali kalian teperdaya oleh ke-bebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat.' Jawab seorang murid dengan yakin seraya mengutip dua buah ayat Quran dengan fasih. 
Mendengar jawaban yang penuh keyakinan itu Abu Qubaisy tersenyum. Sedang-kan murid yang menjawab jadi bingung melihat senyum guru besar mereka itu.
"Tidakkah mungkin yang disebut tipu daya dunia itu hanya kiasan semata? Yang ada sebenarnya hawa nafsu manusia yang tak terkendali, yang bahkan mengalahkan manusia. Nafsu itulah yang menjerumuskan, bukan dunia yang menipu manusia. Karena manusia adalah makhluk yang terbaik yang diciptakan Allah Swt, jadi mana mungkin dia bisa tertipu oleh dunia? Bukankah justru manusia adalah khalifah, atau wakil Tuhan, di dunia?" ujar murid lain dengan teori yang tidak bisa dipandang remeh.
Teman-temannya yang mendengar pendapat tersebut hanya berdiam diri. Mereka bisa merasakan bahwa teori itu masuk akal, tetapi mereka tahu bahwa masuk akal dan benar tidaklah identik dalam agama. Karena itu mereka menunggu pendapat sang mahaguru yang luas ilmu dan pengetahuannya itu.
"Sebuah teori yang bagus dan masuk akal," kata Abu Qubaisy mengejutkan murid-murid yang sependapat. "Karena kita semua tahu, kesenangan duniawi itu tidak lain dari harta dan tahta dengan segala bentuk dan "derivasi"-nya. 
Semua itu adalah hal-hal yang konkret dan amat merangsang nafsu, sehingga mudah membuat manusia jadi lalai. Padahal saat ajal tiba, semua itu tak bisa dibawa dan menolong dalam perjalanan ke akhirat," sambung Abu Qubaisy sambil sekaligus menutup taklimnya karena waktu telah habis.

0 komentar:

Poskan Komentar





Copyright © 2011 Template Doctor