Blogger Widgets
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2013

MOTIVASI DALAM BERDAKWAH DI JALAN ALLAH

(Oleh: Ibnu Sudirman)
عَنْ أَبي هرَيْرَةَ t، عَنْ رَسولِ اللّهِ- r- قَالَ: قَالَ سلَيْمَان بْن دَاودَ عَلَيهِمَا السَّلَام: لأَطوفَنَّ اللَّيْلةَ عَلَى مِائة امْرَأَةٍ -أَوْ تِسْعٍ وتسعِينَ- كلهنَّ

يَأْتي بِفَارِسٍ يجَاهِد فِي سَبيلِ اللّهِ. فَقَالَ لَه صَاحِبه: قلْ: إِنْ شَاءَ الله. فَلَمْ يَقلْ إِنْ شَاءَ اللّه، فَلَمْ تَحْمِلْ منْهن إِلا امْرَأَة وَاحِدَة جَاءَتْ بشِقِّ رَجلٍ. وَالَّذِي نَفْس محَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ قَالَ: إِنْ شَاءَ اللّه، لَجَاهَدوا فِي سبِيلِ اللّهِ فرسَانا أَجْمَعونَ.
وفي رواية: فَقَالَ لَه المَلَك: قلْ إِنْ شَاءَ اللّه، فَلَمْ يَقلْ وَنَسِيَ، فَأَطَافَ بِهِنَّ وَلَم تَلِدْ مِنْهنَّ إِلا امْرَأَة نِصْفَ إِنْسَانٍ فَقَالَ النَّبيّ r: لَوْ قَالَ “إِنْ شَاءَ اللّه”، لَمْ يَحْنثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ.
وفي رواية: فَقَالَ لَه صَاحِبه: قَالَ سفْيَان: يَعني الْمَلَكَ، قلْ إِنْ شَاءَ اللّه فَنَسِيَ. وفيها: لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللّه لم يَحْنَثْ وَكَانَ دَرَكا له فِي حَاجَتِهِ.
Dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, dari Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, Sulaiman bin Daud berkata, ‘Sungguh pada malam hari ini aku akan menggilir seratus isteri (atau sembilan puluh sembilan). Setiap dari mereka akan melahirkan pasukan berkuda yang siap berjuang di jalan Allah.’ Maka shahabatnya berkata kepadanya, ‘Ucapkanlah insyaAllah (jika Allah menghendaki).’ (Akan tetapi) dia lupa untuk mengucapkan insyaAllah, maka tidak ada seorangpun yang hamil dari isterinya melainkan hanya satu saja yang melahirkan separuh orang. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia (Sulaiman) mengucapkan insyaAllah, sungguh (anak-anaknya) akan menjadi pasukan berkuda yang siap berjihad di jalan Allah. [1]
Dalam riwayat yang lain dikatakan,
Maka seorang malaikat berkata kepadanya, ‘Ucapkanlah insyaAllah.’ (Akan tetapi) dia (Sulaiman) tidak mengucapkannya karena lupa. Maka kemudian ia menggilir isteri-isterinya dan dari mereka tidak ada yang melahirkan kecuali seorang perempuan setengah manusia. Maka Nabi mengatakan, Seandainya ia mengucapkan insyaAllah, dan tidak melanggar sumpahnya, maka keperluannya lebh bisa ia harapkan. [2]
Dalam riwayat lain pula dikatakan,
Maka shahabatnya mengatakan, (sebagaimana diriwayatkan oleh Sufyan), ‘Ucapkanlah insyaAllah, akan tetapi dia lupa. Dan dalam riwayat tersebut dikatakan, Seandainya dia (Sulaiman) mengucapkan insyaAllah dan tidak melanggar sumpahnya, maka kebutuhannya bisa ia capai.[3]
URAIAN PEMBAHASAN
Dari hadits di atas, maka kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang berkaitan dengan permasalahan dakwah, diantaranya:
Sifat-sifat da’i.
-   Meluruskan niat dalam beramal.
Niat yang benar merupakan seagung-agung sifat yang terpuji. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, yaitu perkataan Nabiyullah Sulaiman –‘alaihi as-salaam-,
كلهن يأتي بفارس يجاهد في سبيل اللّه.
Setiap dari mereka akan melahirkan pasukan berkuda yang siap berjuang di jalan Allah.
Imam Abu Hamzah –rahimahullaahu ta’ala- menjelaskan, “Salah satu faedah dari hadits tersebut adalah bahwa Nabi Sulaiman mengatakan seperti itu karena kuatnya harapan dan niatnya yang lurus.”
Hal ini menunjukkan bahwa niat seorang mukmin akan lebih sampai kepada tujuan dari perbuatan yang dikerjakannya apabila dirinya meniatkan ikhlas lurus hanya mengharap keridha’an Allah –subhaanahu wa ta’ala-. Terlebih lagi bagi seorang da’i di jalan Allah, pertama-tama yang harus ia perhatikan adalah niat. Wajib baginya agar mengikhlaskan dakwahnya hanya karena mengharapkan ridha Allah –subhaanahu wa ta’ala-.
- Memiliki semangat berjihad dan berjuang di jalan Allah, sebagaimana para nabi –‘alaihimu as-salaam-.
Sesungguhnya para nabi –‘alaihimu as-salaam- adalah golongan manusia yang memiliki semangat yang luar biasa dalam berjihad di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala-demi menegakkan kalimat Allah –subhaanahu wa ta’ala- di muka bumi ini. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Sulaiman –‘alaihi as-salaam-, Sungguh pada malam hari ini aku akan menggilir seratus isteri (atau dikatakan -sembilan puluh sembilan-). Setiap dari mereka akan melahirkan pasukan berkuda yang siap berjuang di jalan Allah.
Kata-kata yang beliau ucapkan tersebut menandakan semangatnya yang begitu besar untuk berjihad di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala-, karena tujuan utama Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salaam-menggilir para isterinya agar terlahir dari mereka para mujahid yang siap berperang di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala-, bukan semata-mata untuk tujuan yang bersifat duniawi. Walaupun pada kenyataannya Allah –subhaanahu wa ta’ala- tidak mengabulkan do’anya tersebut disebabkan beliau tidak mengucapkan insyaAllah.
Maka sebagai seorang da’i di jalan Allah , hendaknya kita memiliki semangat untuk berjihad dan berjuang di jalan Allah dalam rangka menegakkan agama ini di muka bumi dan menjadikan niatnya yang lurus sebagai i’dad (upaya persiapan) untuk melaksanakan jihad di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala-. Sebagaimana Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda,
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
Barangsiapa yang mati dan belum pernah berperang dan tidak terdetik dalam dirinya (keinginan untuk berperang), maka ia mati di atas cabang kemunafikan. [4]
- Beramal dengan sebab-sebab untuk mencapai tujuan dengan tidak meniadakan sikap tawakal kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala-.
Tidak diragukan lagi bahwa beramal dengan sebab-sebab yang dapat membantu seseorang mencapai suatu tujuan yang diharapkan adalah suatu keharusan. Akan tetapi disamping beramal dengan berbagai sebab-sebab tersebut, diharuskan bagi seorang muslim agar menyandarkan dirinya kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- yaitu bertawakal kepadanya.
Sebagaimana apa yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salaam-. Beliau mengerjakan perbuatan yang menjadi salah satu sebab untuk mendapatkan keturunan, yaitu dengan menggilir isteri-isterinya.
Maka satu hal yang perlu diperhatikan dengan seksama oleh seorang da’i di jalan Allah -subhaanahu wa ta”ala- agar melakukan sebab-sebab yang dapat membantu dalam mensukseskan dakwahnya di jalan Allah dengan tidak meninggalkan rasa tawakal kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- semata. Karena Dialah yang Maha Penolong bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
- Teliti dan cermat dalam menukil sebuah hadits, sebagaimana yang dilakukan ulama salaf.
Hadits di atas juga menunjukkan tentang perhatian salafush Shalih dalam menukil dan menyampaikan sebuah hadits. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits di atas tentang perkataan Sulaiman –‘alaihi as-salaam-,
لأطوفن الليلة على مائة امرأة- أو تسع وتسعين
Sungguh pada malam hari ini aku akan menggilir seratus isteri (atau sembilan puluh sembilan).
Imam Abu Hamzah –rahimahullaahu ta’ala- mengatakan, “Perawi hadits ragu-ragu yang mana dari dua riwayat tersebut yang merupakan perkataan Rasulullah.”
Dari sini jelas, bahwa menghafal dan menguasai sebuah hadits dan menukil dengan cermat adalah hal yang sangat penting bagi seorang da’i yang berdakwah di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala-. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh generasi salaful ummah.
-    Mengatakan insyaAllah ketika ingin melakukan pekerjaan pada masa mendatang.
Hadits di atas menunjukkan bahwa salah satu hal yang sangat pentingnya bagi seorang muslim adalah mengucapkan insyaAllah ketika akan mengabarkan tentang perbuatannya yang akan dilakukannya pada waktu yang akan datang atau ketika akan memberikan kepastian kepada saudaranya.
Dalam hadits di atas dikisahkan seorang Nabiyullah, Sulaiman –‘alaihi as-salaam-yang lupa mengucapkan insyaAllah ketika dia akan mengerjakan sesuatu pada waktu yang akan datang. Maka Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kemudian bersabda, Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, seandainya dia (Sulaiman) mengucapkan insyaAllah, sungguh (anak-anaknya) semuanya akan berjihad di jalan Allah. Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Seandainya dia mengucapkan insyaAllah dan tidak melanggar sumpahnya, maka kebutuhannya bisa ia capai.
Dalam hal ini Allah –subhaanahu wa ta’ala- telah memerintahkan kepada kita dengan firman-Nya,
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ ,
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’ . Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…” (QS. al-Kahfi : 23 – 24).
Maka jelaslah, bahwa mengucapkan insyaAllah merupakan salah satu adab yang sangat penting yang tidak boleh diremehkan oleh seorang da’i sehingga hal itu perlu untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Metode dakwah.
-    Kisah-kisah
Kisah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih merupakan salah satu metode dakwah yang sangat penting. Karena di dalamnya mengandung pengaruh dalam jiwa seseorang.
Sebagaimana hal ini terdapat pada hadits di atas, yakni Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-mengisahkan kepada kita tentang Nabiyullah Sulaiman –‘alaihi as-salaam- dan tentang kehendak Allah –subhaanahu wa ta’ala-.
Maka diharapkan bagi seorang da’i agar memperhatikan metode dakwah ini dan menerapkannya dalam dakwahnya karena di dalamnya terdapat banyak faedah yang sangat penting.
Memperkokoh sesuatu dengan sumpah.
Memperkuat perkataan dengan sumpah merupakan salah satu metode dakwah yang penting untuk menyampaikan suatu maksud kepada seseorang dan mengokohkan dalam hati dan menjadikan seseorang lebih percaya.
Dalam hadits di atas, Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
والذي نفسي بيده لو قال إن شاء اللّه لجاهدوا في سبيل اللّه
Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia (Sulaiman) mengucapkan insyaAllah, maka sungguh (anak-anaknya) akan berjihad di jalan Allah.
Begitu pula apa yang dikatakan oleh Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salaam-,
لأطوفن الليلة على مائة امرأة
Sungguh pada malam hari ini aku akan menggilir seratus isteri.
Maka bagi seorang da’i agar memperhatikan metode ini dalam berdakwah di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala- dalam kondisi yang dibutuhkan.
Sasaran dakwah.
Memberikan peringatan kepada orang yang lupa walaupun kepada orang yang berkedudukan tinggi.
Hal ini merupakan tugas yang penting bagi seorang da’i. Sebagaimana dikisahkan dalam hadits, bahwa seorang malaikat yang menjadi tentara Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salaam-, memberikan peringatan kepada Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salaam- ketika beliau tidak mengucapkan insyaAllah. Malaikat tersebut mengatakan, ‘Katakanlah insyaAllah.’ Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memberikan peringatan bagi orang yang lupa walaupun dirinya adalah orang yang terhormat, berpengaruh dan agung di kalangan manusia.
Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah pernah bersabda,
إنمــا أنا بشر مثلكم أنسى كمــا تنسون فإذا نسيت فذكروني
Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa sebagaimana kalian. Aku bisa saja lupa sebagaimana kalian juga lupa, maka jika aku lupa berikanlah peringatan kepadaku.” [5]
Dan telah diketahui bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah sebaik-baik manusia, beliau pula telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala-, baik yang telah lalu maupun yang akan datang (ma’shum).
Maka diharapkan bagi setiap da’i yang benar-benar ikhlas berdakwah di jalan Allah –subhaanahu wa ta’ala- pada khususnya, juga kepada setiap orang yang mengaku dirinya muslim pada umumnya agar memberikan peringatan kepada orang yang lupa walaupun dirinya merupakan orang yang terpandang dan memiliki kedudukan di tengah-tengah manusia. Karena hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dan manfaat-manfaat yang banyak.
فذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. al-Dzariyat : 55).
REFERENSI
Al-Qur’an al-Karim
Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahihu al-Bukhaari, Beirut: Daar al-Fikr, 1998.
Imam al-Nawawi, al-Minhaj (Syarhu Shahih Muslim bin Hajjaj), Beirut: Daar al-Maghfirah, 1999, cet. Ke-6.
Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abu Dawud, Riyadh: Baitu al-Afkar al-Dauliyah.
Sa’id bin ‘Ali Wahb al-Qahthani, Fiqhu Dakwah fii Shahiih al-Imam al-Bukhari, al-Maktabah al-Syamilah.

[1] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Hadits-Hadits Tentang Para Nabi, bab: Firman Allah ta’ala: ( وَوَهَبْنَا لِدَاودَ سلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْد إِنَّه أَوَّاب], Dan juga dalam kitab: Sumpah dan Janji, bab: Bagaimana Sumpah Nabi (no. 6639), dalam kitab: Kafarat Sumpah, bab: Pengecualian dalam Sumpah, (no. 6720), dalam kitab: Tauhid, bab: Kehendak dan Kemauan, (no. 7469). Muslim dalam syarah-nya karya Imam an-Nawawi –rahimahullaahu ta’ala-, dalam kitab: Sumpah, bab: Pengecualian, (no. 4261, 4262, 4263, 4264).
[2] HR. al-Bukhari dalam kitab: Nikah, bab: Perkataan Seseorang, “Sungguh aku akan mencampuri isteriku pada malam hari ini. (no. 5242).
[3] HR. Al-Bukhari dalam kitab: Kafarat Sumpah, bab: Pengecualian dalam Sumpah, (no. 6720).
[4] HR. Muslim dalam syarah-nya karya Imam an-Nawawi –rahimahullaahu ta’ala-, dalam kitab: Jihad, bab: Celaan bagi orang yang mati dan belum pernah berperang dan tidak terdetik dalam dirinya untuk berperang, (no. 4908) dan Abu Dawud dalam kitab: Jihad, bab: Larangan Meninggalkan Perang, (no. 2502).
[5] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Shalat, bab: Menghadap ke arah kiblat dalam ketika (sujud), (no. 401), dan Muslim dalam syarah-nya karya Imam an-Nawawi t, dalam kitab: Masjid dan Tempat-Tempat Shalat, bab: Lupa Dalam Shalat dan Mengerjakan Sujud, (no. 1274).

Rabu, 02 Januari 2013

Download Murattal Syeikh ‘Abdur Rahman As-Sudais

NO
Name of Surah
Link
1
Al-Fatihah ( The Opening )
2
Al-Baqarah ( The Cow )
3
Al-Imran ( The Family of Imran )
4
An-Nisa ( The Women )
5
Al-Maidah ( The Table spread with Food )
6
Al-An’am ( The Cattle )
7
Al-A’raf (The Heights )
8
Al-Anfal ( The Spoils of War )
9
At-Taubah ( The Repentance )
10
Yunus ( Jonah )
11
Hud ( Hud )
12
Yusuf (Joseph )
13
Ar-Ra’d ( The Thunder )
14
Ibrahim ( Abraham )
15
Al-Hijr ( The Rocky Tract )
16
An-Nahl ( The Bees )
17
Al-Isra ( The Night Journey )
18
Al-Kahf ( The Cave )
19
Maryam ( Mary )
20
Toha
21
Al-Anbiya ( The Prophets )
22
Al-Hajj ( The Pilgrimage )
23
Al-Mu’minun ( The Believers )
24
An-Noor ( The Light )
25
Al-Furqan (The Criterion )
26
Ash-Shu’ara ( The Poets )
27
An-Naml (The Ants )
28
Al-Qasas ( The Stories )
29
Al-Ankabut ( The Spider )
30
Ar-Room ( The Romans )
31
Luqman
32
As-Sajdah ( The Prostration )
33
Al-Ahzab ( The Combined Forces )
34
Saba ( Sheba )
35
Fatir ( The Orignator )
36
Yaa-sin
37
As-Shoffat ( Those Ranges in Ranks )
38
Shod ( The Letter Sad )
39
Az-Zumar ( The Groups )
40
Ghafir ( The Forgiver God )
41
Fusshilat ( Explained in Detail )
42
Ash-Shura (Consultation )
43
Az-Zukhruf ( The Gold Adornment )
44
Ad-Dukhan ( The Smoke )
45
Al-Jathiya ( Crouching )
46
Al-Ahqaf ( The Curved Sand-hills )
47
Muhammad (Prophet Muhammad p.b.u.h)
48
Al-Fath ( The Victory )
49
Al-Hujurat ( The Dwellings )
50
Qaf ( The Letter Qaf )
51
Adh-Dzariyat ( The Wind that Scatter )
52
At-Tur ( The Mount )
53
An-Najm ( The Star )
54
Al-Qamar ( The Moon )
55
Ar-Rahman ( The Most Graciouse )
56
Al-Waqi’ah ( The Event )
57
Al-Hadid ( The Iron )
58
Al-Mujadilah ( She That Disputeth )
59
Al-Hasyr ( The Gathering )
60
Al-Mumtahanah ( The Woman to be examined )
61
As-Shoff ( The Row )
62
Al-Jumu’ah ( Friday )
63
Al-Munafiqun ( The Hypocrites )
64
At-Taghabun ( Mutual Loss & Gain )
65
At-Thalaq ( The Divorce )
66
At-Tahrim ( The Prohibition )
67
Al-Mulk ( Dominion )
68
Al-Qalam ( The Pen )
69
Al-Haaqqah ( The Inevitable )
70
Al-Ma’arij (The Ways of Ascent )
71
Nuh (Prophet Nuh a.s)
72
Al-Jin ( The Jin )
73
Al-Muzzammil (The One wrapped in Garments)
74
Al-Muddaththir ( The One Enveloped )
75
Al-Qiyamah ( The Resurrection )
76
Al-Insan ( Man )
77
Al-Mursalat ( Those sent forth )
78
An-Naba’ ( The Great News )
79
An-Nazi’at ( Those who Pull Out )
80
Abasa ( He frowned )
81
At-Takwir ( The Overthrowing )
82
Al-Infitar ( The Cleaving )
83
Al-Mutaffifin (Those Who Deal in Fraud)
84
Al-Inshiqaq (The Splitting Asunder)
85
Al-Buruj ( The Big Stars )
86
At-Thoriq ( The Night-Comer )
87
Al-A’la ( The Most High )
88
Al-Ghashiya ( The Overwhelming )
89
Al-Fajr ( The Dawn )
90
Al-Balad ( The City )
91
Ash-Syams ( The Sun )
92
Al-Lail ( The Night )
93
Ad-Dhuha ( The Forenoon )
94
Asy-Syarh ( The Opening Forth)
95
At-Tin ( The Fig )
96
Al-’Alaq ( The Clot )
97
Al-Qadr ( The Night of Decree )
98
Al-Bayyinah ( The Clear Evidence )
99
Az-Zalzalah ( The Earthquake )
100
Al-’Adiyat ( Those That Run )
101
Al-Qari’ah ( The Striking Hour )
102
At-Takathur ( The piling Up )
103
Al-Asr ( The Time )
104
Al-Humazah ( The Slanderer )
105
Al-Fil ( The Elephant )
106
Quraish (The tribe of Quraish)
107
Al-Ma’un ( Small Kindnesses )
108
Al-Kauthar ( A River in Paradise)
109
Al-Kafirun ( The Disbelievers )
110
An-Nasr ( The Help )
111
Al-Masad ( The Palm Fibre )
112
Al-Ikhlas ( Sincerity )
113
Al-Falaq ( The Daybreak )
114
An-Nas ( Mankind )

Selasa, 25 Desember 2012

Cerita relawan HASI: Malaikat-malaikat pun turun di bumi jihad Suriah


Bagi relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) keberkahan bumi Syam dan keutamaan bumi jihad benar-benar mereka rasakan dan saksikan. Saat mereka mengunjungi Suriah untuk memberikan bantuan kemanusiaan ada kisah dan pengakuan yang mereka dengar sendiri, betapa pertolongan Allah benar-benar turun di bumi Jihad Suriah.
Adalah Abu Yahya, koordinator relawan HASI menceritakan kisah seorang mantan tentara Bashar Assad yang membelot dan bertaubat lalu bergabung dengan mujahidin.
Saat diwawancara oleh mujahidin Suriah dan relawan HASI  mantan tentara itu,  menjawab pertanya kenapa para tentara Assad yang berjumlah 1500 personel di Jabal Akhrod tidak berani melakukan serangan kepada mujahidin Suriah yang hanya berjumlah 150 personel, padahal baik secara kekuatan (jumlah) dan persenjataan, mujahidin jauh kalah dari tentara Assad.
Mantan tentara Bashar Assad menjelaskan sembari terkejut dan heran lalu balik bertanya. "Siapa bilang jumlah kalian sedikit? Kami setiap malam melihat kalian dengan pakaian putih-putih bergerak dari satu lembah ke lembah lain sehingga kami berfikir jumlah kalian begitu banyak dan menjadi pertimbangan kami untuk tidak lebih dulu menyerang," ungkapnya dalam presentasi laporan Tim ke-3 HASI kepada Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS) di gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Selasa (11/12).
Seperti diketahui, meskipun wilayah Jabal Akrod mempunyai sebuah tapal batas dengan tentara Assad yang jumlahnya ribuan. Tapal batas tersebut hanya dijaga oleh ratusan mujahidin. Begitu pentingnya tapal batas tersebut mempengaruhi situasi di Jabal Akrod, apabila pasukan Assad mampu membobol perbatasan tersebut.
"Namun, hingga kita pulang mereka tidak mampu membobol tapal batas, Allah menurunkan pertolongannya. Sebab, disana dijaga oleh para Mujahidin yang sangat ikhlas mencari ridho Allah, sangat menjaga agamanya, sedikit bicara, menundukkan pandangan, dan menjauhi sikap ashobiyah (fanatisme kelompok)," papar Umar Mitha penerjemah yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan HASI.
Peristiwa-peritistiwa luar biasa seperti diatas pun tidak hanya terjadi satu kali.  Pada kejadian yang lain, saat mujahidin hendak melakukan perang dengan konvoi 50 truk yang berisi tentara Bashar Assad. Hingga pada satu titik terjadilah baku tembak antara mujahidin dengan tentara Assad. Karena mujahidin memang sudah merencanakan aksi serangan untuk menghabisi dan memukul mundur tentara Bashar Assad.
Diluar dugaan, tiba-tiba saja muncul kejadian di luar perkiraan mereka. Helikopter dan pesawat tempur datang seperti hendak memerangi mujahidin. Tentu mujahidin berkesimpulan bahwa ini bantuan dari pihak Bashar Assad untuk menewaskan mereka. Ingat, hingga kini mujahidin Suriah sama sekali tidak memiliki alat tempur seperti pesawat. Mereka bertempur hanya via jalur darat dengan persenjataan yang kalah canggih jika dibandingkan milik rezim Assad.
Mengukur jumlah personel dan persenjataan yang terbatas, komando mujahidin menyerukan untuk segera mengosongkan tempat pertempuran dan masuk ke gunung-gunung untuk mengatur strategi.
Anehnya, ketika mujahidin sudah menarik diri, suara baku tembak masih saja terus terjadi. Berondongan dan desingan peluru seperti enggan berhenti walaupun tidak ada satu mujahidin pun tersisa di lokasi pertempuran.  Komando mujahidin sampai bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya yang sedang berperang melawan tentara Bashar Assad.
Ia pun mengecek jumlah personel untuk mengantisipasi ada mujahidin tertinggal dan melakukan perlawanan kepada tentara Assad. Namun hasil perhitungannya, seluruh mujahidin sudah masuk ke dalam gunung.
Hingga datang matahari terbit dan mereka yakin kondisi telah aman, barisan mujahidin turun ke gunung-gunung dan betapa terkejutnya mereka melihat sebagian tentara Assad telah tewas dengan luka menganga. Sebagian lainnya mengalami luka berat layaknya menghadapi pertempuran hebat. Tentu kejadian ini menjadi seribu tanya bagi Abu Yahya, relawan HASI yang menghabiskan waktu selama satu bulan di Desa Salma, daerah Jabal Akhrod, Suriah dan mendapatkan kisah ini langsung dari mujahidin.
"Lantas siapa yang berada di dalam pesawat dan helikopter untuk melawan tentara Suriah?," tanya Abu Yahya yang diliputi rasa heran para audiens yang hadir.
Banyak peristiwa-peristiwa lain yang belum sempat diceritakan relawan HASI secara lengkap mengingat keterbatasan waktu. Namun, kisah-kisah tersebut sudah cukup mengukuhkan keyakinan mereka munculnya ayaturrahman fi jihadil Syam.
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS Al-Anfal 10). (bilal/arrahmah.com)

Sabtu, 08 Desember 2012

QULHU ae Lek!!! Suwen


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDAUraTcmfz1HIeKXJPLow-_vlVwEAhMqs8zaLwQKnhmNSncQ37Kv8-kr_dtzTCz-Y0ndzqcWl_5RK8EEFsTOz4jbc8G5BziaypkDiHt9d81n_WsRhRb_5STcRg-wbQl98kkpeszOVhcAZ/s1600/anwar-zahid.jpgKH Anwar Zahid dalam satu ceramahnya bercerita, dirinya pada suatu saat mengisi pengajian di suatu kampung dan diminta untuk menjadi imam shalat Tarawih.

Karena masih ada sosok kiai sepuh ia pun menghormati beliau untuk mengimami. Shalat sunnah dimulai.

Saat membaca surat al-Fatihah dengan fasih dan lancar. Bakda Fatihah imam melafalkan, “wama….” Kiai asal Bojonegoro ini hendak membantu terusan lafal dari imam tetapi ia bingung lanjutan "wama" yang kiai sepuh itu maksud.

Imam pun mengulang kata "wama" berkali-kali, tapi juga tidak ada lanjutan-lanjutannya. Saking kesalnya makmum dari kalangan anak-anak dari shaf paling belakang bersoloroh,”Qulhu ae Lek!”. Maksudany, Qulhu saja,Pak. (Syaiful Mustaqim)

sumber www.nu.or.id

Jumat, 07 Desember 2012

Gus Dur Dan Habib


Sejak berada di Mesir, Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas berteman baik dengan Gus Dur. Jarak dan rasa sungkan sudah lama putus di antara keduanya.

Suatu hari Gus Dur dan Habib menginap di sebuah hotel di Jawa Barat. Habib tahu, teman karibnya ini selalu minta dibayar tiap kali di hotel atau rumah makan. Kali ini, ia ingin menguji “kebakhilan” Gus Dur.

Saat tiba waktu check-out, Habib keluar kamar lebih dulu.

“Tolong nanti yang bayar penginap di kamar nomor ini. Namanya KH Abdurrahman Wahid,” ucap Habib kepada kasir hotel.

Dengan dituntun, Gus Dur ke arah pintu keluar sambil celingukan.

“Di mana habib itu?” sergahnya.

Sejenak kemudian, langkahnya tertahan.

“Maaf Pak Yai, urusan kamar Pak Yai sama Habib belum beres,” kata kasir hotel.

Cucu pendiri NU ini bingung, “Maksudnya?”

“Pembayarannya.”

“Waduh…” Gus Dur menepuk jidat. “Mana bawa uang aku. Ya udah utang dulu aja, ya,” tutur Gus Dur sembari menyodorkan KTP.

Di depan pintu hotel, Habib cekikikan dari dalam taxi yang sedang diam di pelataran. (Mahbib Khoiron)

sumber http://www.nu.or.id

Rabu, 25 Juli 2012

Download Mp3 Murottal Al Qur'an Ahmad Saud


Download Murottal Ahmad Saud
No SurahNama SurahLink Download
85Al-BurujDownload
86At-TariqDownload
87Al-A'laDownload
88Al-GhasyiyahDownload
89Al-FajrDownload
90Al-BaladDownload
91Asy-SyamsDownload
92Al-LailDownload
93Ad-DhuhaDownload
94Asy-SyarhDownload
95At-TinDownload
96Al-'AlaqDownload
97Al-QadarDownload
98Al-BayyinahDownload
99AL-ZalzalahDownload
100Al-'AdiyatDownload
101Al-Qari'ahDownload
102At-TakasurDownload
103Al-'AsrDownload
104Al-HumazahDownload
105Al-FilDownload
106QuraisyDownload
107Al-Ma'unDownload
108Al-KautsarDownload
109Al-KaafirunDownload
110An-Nashr'Download
111Al-LahabDownload
112Al-IkhlasDownload
113Al-FalaqDownload
114An-NasDownload
sumber: mp3quran.net dan mp3qurani

Selasa, 24 Juli 2012

Cara Malaikat Maut Memberitahu Ajal Kita

Sebagian Para Nabi berkata kepada Malaikat pencabut Nyawa. “Tidakkah Kau memberikan Aba-aba atau peringatan kepada Manusia bahwa kau datang sebagai malaikat pencabut nyawa sehingga mereka akan lebih hati-hati?”
Malaikat itu menjawab. “Demi Allah, aku sudah memberikan aba-aba dan tanda-tandamu yang sangat banyak berupa penyakit, uban, kurang pendengaran, penglihatan mulai tidak jelas (terutama ketika sudah tua). Semua itu adalah peringatan bahwa sebentar lagi aku akan menjemputnya. Apabila setelah datang aba-aba tadi ia tidak segera bertobat dan tidak mempersiapkan bekal yang cukup, maka aku akan serukan kepadanya ketika aku cabut nyawanya: “Bukan kah aku telah memberimu banyak aba-aba dan peringatan bahwa aku sebentar lagi akan datang? Ketahuilah, aku adalah peringatan terakhir, setelah ini tidak akan datang peringatan lainnya “ (HR imam qurthubi)

Beginilah cara kerja Malaikat Maut
Nabi Ibrahim pernah bertanya kepada Malaikat maut yang mempunya dua mata diwajahnya dan dua lagi tengkuknya. “Wahai malaikat pencabut nyawa, apa yang kau lakukan seandainya ada dua orang yang meninggal diwaktu yang sama; yang satu berada di ujung timur yang satu berada diujung barat, serta ditempat lain tersebar penyakit yang mematikan dan dua ekor bintang melata pun akan mati?”

Malaikat pencabut nyawa berkata:” Aku akan panggil ruh-ruh tersebut, dengan izin Alloh, sehingga semuanya berada diantara dua jariku, Bumi ini aku bentangkan kemudian aku biarkan seperti sebuah bejana besar dan dapat mengambil yang mana saja sekehendak hatiku “(HR abu Nu’aim)

Ternyata Orang Mati Mendengar Tapi Tidak Bisa Menjawab
Rosullulloh SAW memerintahkan agar mayat-mayat orang kafir yang tewas pada perang badar dilemparkan ke sebuah sumur tua. Kemudian beliau mendatanginya dan berdiri di hadapannya. Setelah itu, beliau memanggil nama mereka satu-satu: “Wahai fulan bin fulan, fulan bin fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian untuk kaliab betul-betul ada? Ketahuilah sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar-benar ada dan terbukti.”

Umar lalu bertanya kepad a Rosulullah. “Wahai Rasul, mengapa engkau mengajak bicara orang-orang yang sudah menjadi mayat?”

Rosullah menjawab. "Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran, kalian memang tidak mendengar jawaban mereka atas apa yang tadi aku ucapkan, Tapi ketahuilah, mereka mendengarnya, hanya saja tidak dapat menjawab” (HR Bukhari Muslim)





Copyright © 2011 Template Doctor